Connect with us
rupa-makassar-dalam-seni-rupa-indonesia

Bincang Rupa

RUPA MAKASSAR DALAM SENI RUPA INDONESIA

Menariknya, setiap daerah di Indonesia memiliki bentuk kesenirupaannya sendiri yang meskipun memang berpusat  di tanah Jawa yang lebih agraris. Adapun di luar dari itu, berbagai daerah lain memiliki problematika dan dinamika tersendiri sejak model pendidikan seni pertama di Indonesia (kunstring) dibentuk pada 1928 lalu berlanjut menjadi komunitas-komunitas seni pasca Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia hingga institusi seni berkembang di Indonesia, sejak dipelopori Persagi pada 1937. Sebuah upaya untuk menggelindingkan proses desentralisasi dalam kehidupan kebudayaan, khususnya senirupa di Indonesia (Halim HD, 1999: 8). Lalu, Makassar pada awal jejak kesenirupaannya di 1940, menghadirkan pergulatan yang nampaknya ingin membentuk seni rupanya sendiri dalam sejarah Seni Lukis Indonesia, baik karya maupun pamerannya dengan segala kutatan kejat arahnya; dimana…dilandasi oleh keinginan untuk menampilkan sifat keberagaman wajah seni rupa kita (Sofyan Salam, 1999: 12). Rentang 1940an-1960an, sebagai jejak masa permulaan Seni Rupa “Makassar” yang mencapai titik didihnya dalam Makassar Art Forum 1999 (MAF’99) dalam sebuah model pameran besar seni rupa. Jejak lanjutannya memunculkan diri pada Makassar Biennale 2015, mengusung Trajectory lukisan primitif Leang-Leang yang sempat geger diidentifikasi menjadi lukisan gua tertua di dunia, sekitar 39.000 tahun lalu, jauh melampaui Altamira dan Lascaux sebagai landasan periodisasi jejak lukisan. Makin menariknya, Makassar Biennale 2017 kemudian diakui sebagai salah satu model bentukan bienial di Indonesia setelah Jakarta Biennale dan Jogja Biennale yang telah lama menjadi patokan perkembangan Seni Rupa Indonesia dalam kancah Seni Kontemporer Dunia. Konferensi Pers Bersama oleh Bekraf: Upaya Kolektif Tempatkan Indonesia dalam Peta Seni Kontemporer Dunia, merupakan panggung yang kini berkelut berkelindan dengan tampakan visualnya, diprotes oleh khalayaknya, yang mengatakan diri seniman dari Makassar, pun memang yang selama dan atau baru ini bergerilya untuk hidup-kembangnya Kesenirupaan Makassar.

Jejak Kesenirupaan Makassar

Jika ingin menelusuri jejak kesenirupaan yang dimaksud sebagai sejarah seni rupa makassar, sebenarnya terkadang membesar-besarkan jejak namun memang ada jejaknya di satu sisi, setidaknya MAF’99 telah memamerkan jejak tersebut. Maka kemudian yang seharusnya lebih dikaji adalah bentukan bienial, juga semestinya menjadi fokus kritikan bersama, bukan malah saling protes satu sama lain nampaknya. Berbagai pameran selama rentang dua tahun jejak tersebut masih dalam hitungan puluhan yang kebanyakan digelar sebagai salah studi akhir dari dua institusi seni di Makassar, FSD UNM dan Prodi Pendidikan Seni Rupa Unismuh, pun beberapa lainnya disusun oleh komunitas-komunitas literasi dan sastra juga satu-dua kelompok yang berkumpul dalam niatan untuk memberikan perspektif dan warna lain pada Seni Rupa (kebanyakan dalam bentuk lukisan, ilustrasi, mural, drawing, sketsa,  wpap, fotografi, dan cukilan) di Makassar. Jika lagi dilihat dari jejak tersebut, melalui gelaran-gelaran demikian, maka sudah seharusnya Kesenirupaan Makassar telah bertumbuh dan berkembang untuk memberikan perspektif dan warnanya bagi Seni Rupa Indonesia. Meski demikian, hal-hal yang menjadi sebab belum terhubungnya berbagai jejak tersebut, lebih banyak terjadi karena karena masih ada garis-garis pemisah antara titik-titik jejak tersebut, kemungkinan sebagai berikut:

Galeri; Sebenarnya sejak 2011, Rumata’ Art Space berdiri sebagai rumah budaya, dan Ruang Seni Rupa Makassar yang difungsigunakan pada 2014, merupakan model galeri yang menyediakan sebuah ruang demi menampung karya-karya dari para penggiat seni di Makassar. Namun memang, Rumata’ Art Space sendiri lebih berfokus pada perfilman dan literasi; pun Ruang Seni Rupa Makassar malah menjadi ruang yang entah bentukannya menjelma sebagai pasar kesenirupaan. Galeri sebagai tempat berkesenian untuk kemudian menggelar pameran yang diharapkan lalu makin dipertanyakan eksistensinya, jangankan secara konseptual, visualnya pun terus menjadi curhat-bincangan, kadang pula menjadi keluhan. Lalu kini, bermunculan coffeshop sebagai ruang pengganti galeri, tempat ngopi-ngumpul-ngobrol apapun tentang terutama seni dan literasi yang sementara lagi menjamur di Makassar.

Komunitas; Yang satu ini, malah merebak, mulai dari kumpulan ini sampai kumpulan itu, semuanya ada. Tetapi tidak seperti umumnya, komunitas-komunitas dengan embel kata seni di depan atau dibelakangnya adalah kumpulan-kumpulan tanpa daya kritis-kreatif untuk mengamati kondisi dan perkembangan kesenian itu sendiri serta kaitannya terhadap kehidupan sosial. Namun di sisi lain, komunitas-komunitas tanpa kata seni merupakan studi kasus yang mesti menjadi bahan kajian bersama di Makassar yang tidak perlu disebutkan satu-persatu model dan metode independennya, malah lebih dekat pada model kesenian yang mampu mengkritik dan mendekatkan diri pada masyarakatnya, serta memberikan semacam penyadaran akan fungsi seni selain dari seni itu sendiri. Di antaranya keduanya, yang satu berfokus pada visualnya, lainnya berfokus pada konseptualnya. Setidaknya seperti itulah belakangan ini dimana kedepan semoga bisa dipertemukan tanpa merasa ini kurang itu lebih.

Media; Informasi bacaan merupakan momok bagi kebanyakan, bukan hanya seni pada khususnya tapi pada umumnya seperti itulah situasinya. Bacaan dengan segala bentuk dan modelnya lebih dipamerkan dibanding dijadikan informasi untuk melihat dan menilai serta mengkritisi diri sendiri. Hal ini terkait erat dengan komunitas tentunya, yang setidaknya kini telah menjamur ke segala, kalaupun bisa disebut, komunitas lainnya: membumi-manusiakan literasi. Sisi lainnya, sosial media juga memerankan dan diperankan sebagai booming untuk melempar berbagai macam informasi, yang juga sayangnya masih belum terkoneksi dalam sebuah jaringan profesional saling mendukung secara kritis. Sekali lagi tetapi, sepengamatan, Makassar telah mempunyai (bukan memiliki) satu-dua media keren yang mampu merepresentasikan perkembangan media baru, media yang mampu menjalankan perannya, menginformasikan (kajian data dan tulisan kritis) secepat kilat dengan santai.

Pameran; Dalam berbagai postingan dan sharingan, pameran ternyata dilihat dari banyak-sedikitnya scroll-like. Pameran menjadi ajang pamer-pameran. Meski memang pada dasarnya pameran, untuk memamerkan sebuah sesuatu. Tetapi karena kaitannya dengan karya seni (baca: visual dan konsep atau bentuk dan isi yang ingin disampaikan) sebagai sebuah cerita juga juga isu juga wacana (baca: seperti itulah kontemporernya barangkali), meskipun juga karya seni memiliki dan mempunyai nilai seni sendiri (baca: tentunya tak perlu lagi diperdebatkan), maka pameran bukanlah sekedar ajang pamer-pameran apalagi pajang-pajangan yang dilihat dari riuh meriahnya pameran tersebut. Pertanyaannya kemudian, bagaimana pemahaman kita sendiri tentang gelaran sebuah pameran? apakah ini ataukah itu? untuk ininya dan itunya sebenarnya terkait dengan Galeri-Komunitas-Media. Pameran memang, masih membutuhkan kerja tim manajemen yang berpengalaman di hubungan ketiga elemen tersebut dimana semuanya memiliki target dan tantangan untuk berproses bersama.

Tentang Seniman dan Seni itu Apa; Nah, ini merupakan pertanyaan bersama untuk dipikirkan sendiri-sendiri kemudian dijawab lalu didiskusikan bersama-sama, santai dan sistematis. Kenapa santai dan sistematis, karena selama ini yang terjadi di Makassar adalah ketika membahas tentang seniman maka yang terjadi kebanyakan hanyalah pengakuan prestise personal, bukan karya yang menjadi kenapa orang disebut sebagai seorang seniman; serta pada waktunya mencoba untuk mendefinisikan seni itu apa, apalagi seni rupa makassar, maka yang muncul malah kebanggaan akan sejarah awal seni di Makassar yang juga masih merupakan jejak-jejak masa lalu untuk dikaji lebih lanjut. Akhirnya tentang seniman dan seni itu apa menjadi sempit, menjauh dari pemahaman dasar tentang seniman dan seni itu apa.

Langkah Lintasan Lanjutan

Ruang-ruang untuk berdiskusi melihat keadaan demikian diperlukan tentunya, meski sepetak, yang jelas mampu memberikan bincangan segar dan kritis membangun tentang Kesenian di Makassar. Komunitas-komunitas perlu dipertemukan dalam sebuah ruang bersantai bercerita bertukar pikiran dan gagasan selanjutnya mengenai apa yang telah terjadi sebagai bahan kajian sebagaimana adanya dan apa yang akan dilanjutkan sebagai kreasi atas apa yang terjadi dan berkembang kini. Dengan seperti ini, media diharapkan mampu memainkan perannya dalam mencatat jejak-jejak baru itu untuk dievaluasi bersama nantinya. Memang diperlukan sebuah ruang, saling belajar melatih kepekaan visual dan kesadaran konseptual, sebuah ruang membaca gambar dan ide, membincangkan lintasan selanjutnya. Makin banyak titik-titik ruang baru, semakin banyak pula peluang munculnya perspektif dan warna baru, tentunya dengan lintasan-lintasan ide baru pula oleh orang-orang yang masih berpikiran baru tetapi masih memahami kebudayaannya masing-masing. Mungkin seperti itulah langkah lintasan lanjutannya dimana kita sudah mesti belajar mengarsipkan berbagai gambaran dan gagasan awal tersebut. Selamat berdiskursus, salam kurru sumange.

DISKURSIFIKASI

Membincangkan Rupa Makassar dalam Seni Rupa Indonesia tentunya turut pula menelisik jejaknya yang seringkali riuh rendah. Meskipun demikian, apa yang telah menjadi jejak pada MAF’99 sebagai landasan perkembangan seni rupa di Makassar, merupakan fenomena dalam mengkaji Kesenirupaan Makassar sebagai warna dan perspektif lain Seni Rupa Indonesia. Olehnya itu, sebelum membahas bincangannya kemudian, penilikan terhadap Kesenirupan Makassar menjadi penting untuk melihat dan memahami konsep awal guna mengamati periodisasi bentuk dan isi perjalanan Seni Rupa di Makassar pada Seni Rupa Mimesis dan Modern Kontemporer di Sulawesi Selatan sebagai pustaka acuan utamanya, sebagai berikut:

Mulanya, Seniman juga (sebagai) Pendidik

Jika bercerita tentang seniman sebagai seorang yang menguasai konsep dan teknik dalam berkarya juga memiliki gaya dan goresan tersendiri dalam karyanya, maka yang muncul adalah Sakka Ali Jatimayu sebagai seniman pertama dari Sulawesi Selatan yang ikut berpameran di Jakarta pada 1980. Namun rentangan empat dekade sebelumnya, seni rupa untuk menaungi seni lukis dan patung sebagai bentuk awal, telah ada dan dikembangkan di Makassar. Terkait hal tersebut, dua seniman juga sekaligus sebagai pendidik dalam hal ini menyebarkan dan mengajarkan seni dalam konteks pendidikan guru gambar menjadi kajian utama untuk lebih mengamati Kesenirupaan Makassar. Ali Walangadi dan Abd. Kahar Wahid adalah penggeraknya, dimana menjadi titik mula tumpuan dan pertemuan selanjutnya.

Lanjutannya, Perumusan Bentuk

Pada identifikasinya, periodisasi perkembangan Seni Rupa di Makassar yakni: [1940-an] pameran pertama oleh Affandi dan Henk Ngantung yang diinisiasi oleh J.E. Tatengkeng sebagai pengenalan terhadap Seni Rupa Modern di Makassar; [1950-an] pengenalan Seni Rupa Modern dalam bentuk media buku, dan pameran2 oleh para perupa muda dan awal di Makassar, oleh M.J. Untung, Malik Jasin, Kaunang, Suparno, Hadi Prajitno pada 1955; [1960-an]  peramuan perkembangan kesenirupaan dan tumbuhnya komunitas seni dalam bentuk sanggar, realis-naturalis, serta dengan diselenggarakannya pameran-pameran yang mampu merepresenatasikan produktifnya kesenirupaan di Makassar, oleh para seniman seperti Ali Walangadi, Nur Alim, Indra Chandra, Mustafa Djalle, Abd. Rachim Sjarief, Hartati Odang, Mustarief, L.T. Tjoan, Marthen Pattilima, M.N. Syam, Abd. Kahar Wahid, A. Aminullah, Arief Daeng Nawang, S. Toyo, S.A. Jatimayu, Tarekat Kiming, Hasyim Manranuang, Jusmania Januar, Widjaja W. Putra, Djahidin, Husni Abdullah, Ahmad Idrus, Frans Nadjira, S. Mamala; pada komunitas seni yang telah didirikan yakni Studio Artis dan Aksara Lontara oleh Mustafa Djalle, Lagaligo oleh Ali Walangadi dan S.A. Jatimayu pada 1964, Sanggar Karya-Gapura Warna-Kontak oleh Mustarief dan Arief Daeng Nawang, dan Sanggar A3 oleh Abd. Kahar Wahid, A. Aminullah, dan Ahmad MS. pada 1968; dan terbentuknya institusi seni pada [1970-an]. Lebih rinci sebagai Peristiwa Penting Masa Permulaan Kesenirupaan Makassar (Salam, 2000):

[1] Didirikannya organisasi Angkatan Pelukis Indoneisa (API) yang dimaksudkan untuk menghimpun pelukis Sulawesi-Selatan. Organisasi ini diketuai oleh M. J. Untung sedang sekretarisnya adalah Ali Walangadi. Organisasi ini penting oleh karena merupakan organisasi pertama yang menghimpun perupa di daerah ini. Organisasi kesenian yang ada sebelumnya hanya menghimpun bidang sen lain seperti seni sastra, seni teater, seni tari, dan seni musik (pada awal tahun 1950-an seni musik disebut sebagai seni bunyi).

[2] Didirikannya Akademi Seni Lukis “Sehati” yang dibina oleh M. J. Untung, Indra Chandra, Kasiming, dan Alimin. Akademi yang menempati rumah M. J. Untung di Kampung Pisang ini, tidak bertahan lama oleh karena adanya konflik gagasan antara pembinanya. M. J. Untung berkeinginan untuk mengarahkan mahasiswanya ke aliran surealisme yang dianutnya sedangkan Indra Chandra berpendangan bahwa untuk mahasiswa yang masih tergolong pelukis pemula, sebaiknya dibekai dengan keterempilan-keterampilan dasar dalam mengungkapkan ide nerdasarkan teknik naturalistis/realistis sebagaimana lazimnya pada akademi-akademi seni rupa yang ada di tempat lain. Rahman Arge dan Arshal Alhabsi termasuk mahasiswa dari akademi ini.

[3] Didirikannya Akademi Seni Lukis Indonesia (ASLI) yang dibina antara lain oleh Indra Chandra, Putu Wardhana, Nur Alim, Ali Walangadi, Tarekat Kiming, dan Mustafa Djalle. Akademi Seni Lukis ini mendapatkan subsidi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang dikoordinasikan oleh J. E. Tatengkeng. Indra Chandra yang menjadi direktur dari akademi ini (1959-1963) menekankan kepada mahasiswanya agar selain melukis untuk berekspresi, mereka juga perlu untuk melukis supaya dapat hidup secara layak. Artinya mereka tidak perlu menabukan melukis berdasarkan pesanan. Indra Chandra menekankan hal ini oleh karena kuatnya pengaruh pandangan yang berkembang pada masa itu seperti telah disinggung di muka bahwa perupa seyogyanya tidak membuat karya pesanan oleh karena akan menurunkan martabatnya sebagai seorang seniman. Pandangan Indra Chandra ini sejalan dengan Mustafa Djalle, pembina ASLI yang lain, yang dengan senang hati bersedia menggarap lukisan-lukisan pesanan. Pelukis-peukis yang pernah belajar di akademi ni antara lain Frans Nadjira (yang namanya kemudian mencuat dalam jajaran pelukis nasional) dan Djahidin. Sayangnya akademi ini tidak bertahan lama.

[4] Dibukanya Jurusan Menggambar pada Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) Negeri Makassar di bawah asuhan Indra Chandra. Tapi jurusan ini tidak mampu bertahan karena kekurangan tenaga pengajar. Atas rekomendasi Abdul Fattah, Kepala Inspeksi Pendidikan Guru Provinsi Sulawesi-Selatan, Abd. Kahar Wahid yang saat itu baru saja menyelesaikan studinya di ASRI, ditugaskan untuk membuka kembali jurusan ini pada tahun 1966 dan sekaligus menjadi ketua jurusan hingga tahun 1974. Turut membina jurusan ini adalah A. Aminullah dan Ahmad MS (keduanya lulusan ASRI). Jurusan Menggambar PGSLP yang berlokasi di Jalan Sumba (bekas bangunan milik masyarakat Cina yang diambil oleh pemerintah) ini secara khusus mendidik guru-guru yang berbakat menggambar yang telah bertugas mengajar. Jadi bersifat inservice-training. Berdasarkan tujuan ini, maka PGSLP dikenal pula dengan nama Kursus Dinas Akta Mengajar Negeri. Mata kuliah bidang studi yang ditawarkan di jurusan ini antara lain gambar bentuk, gambar model, gambar perspektif/mistar/proyeksi, gambar reklame, ilustrasi dan juga seni kriya. Jurusan ini penting dalam kaitannya dengan pengembangan seni rupa di daerah ini karena mempersiapkan guru-guru secara lebih baik untuk menangani pelajaran menggambar dan seni kriya di sekolah-sekolah menengah, khususnya sekolah menengah pertama, di Sulawesi-Selatan. Beberapa diantara lulusannya yang berbakat, ditugaskan di berbagai pelosok Sulawesi-Selatan seperti Zakariah di Soppeng, Mangngulita Pabbicara di Suppa, dan Sideking di Bone. Ada juga beberapa lulusannya yang kemudian melanjutkan studinya ke Jurusan Seni rupa FKSS IKIP Makassar seperti Azis Tahrir, Bakri Latief, dan Yahya Surung.

[5] Didirikannya Dewan Kesenian Makassar (DKM) pada 25 Juli 1969 yang bertujuan untuk mengembangkan kegiatan kesenian di Makassar. Penggagas didirikannya organisasi profesi seniman ini seperti Hamzah Daeng Mangemba, Hengk Rondonuwu, Arsal Alhabsi, Husni Djamaluddin, Rahman Arge, dan Andi Baso Amir menyadari bahwa seniman di daerah ini perlu dipersatukan dalam sebuah wadah yang lebih komprehensif yang meliputi berbagai bidang kesenian. Seniman perupa yang ikut menandatangani pembentukan DKM ini adalah Ali Walangadi dan S. A. Jatimayu. Atas inisiatif DKM yang saat itu bermarkas di Jalan Irian Nomor 69 (bekas tempat pertunjukan masyarakat Cina), Akademi Kesenian Makassar kemudian didirikan. Sebagai direkturnya, ditunjuk M. N. Syam yang pernah mengecap pendidikan di akademi seni rupa di Yogyakarta dan Eropa.

BINCANGAN

rupa-makassar-dalam-seni-rupa-indonesia

Bentangan peristiwa kesenirupaan kemudian dipaparkan oleh kak Abdi sebagai pembicara pertama, menilik kembali perjalanan awalnya di Makassar. Dilanjutkan oleh kak Jimpe, setelah gelaran kedua Makassar Biennale, mencoba mewacakan perspektif kemaritimannya dalam format bienial di Indonesia bersama Jakarta Biennale dan Yogya Biennale untuk melihat posisi Indonesia di Seni Kontemporer Dunia. Adapun poin-poin yang sempat dicatat oleh Suherman sebagai moderator, sebagai berikut:

Kolaborasi dan Aktivisme Seni di Makassar serta Penawaran Platform Praktek Kerja Seni [Abdi Karya, Performance Artist & Art Organizer] 

Desentralisasi dalam pengembangan kesenian dan kebudayaan; Pertunjukan selama ini didominasi oleh para akademik;Periode DKM menjadi pusat berkesenian di Makassar pada waktu tersebut;Makassar Art Forum (MAF) pada 1999 sebagai pameran besar seni rupa menjadi puncak pencapaian Seni Rupa Makassar; Kajian terhadap Seni Rupa memerlukan lintas dan antar disiplin yakni bersifat kolaboratif; Ide-ide tentang pengembangan kesenirupaan di Makassar membutuhkan media dan jaringan kolektif; Harapannya, seniman atau penggiat seni Makassar aktif mengikuti pameran dan residensi guna membangun jaringan yang lebih luas.

Dalam perkembangan Seni Rupa Makassar selalu ada Proses Edukasi

Konteks “Dalam dan Luar” Seni Rupa Makassar [Anwar Jimpe Rachman, Direktur Makassar Biennale]

Konteksnya kemudian adalah bagaimana menempatkan dan memperlakukan diri dengan realitas seni kini; Kurasi dan kritisasi seni rupa masih bolong di Makassar, terutama dalam bentuk literasi dan penulisan; Ruang Apresiasi nyaris tidak ada; Peristiwa-peristiwa Seni Rupa kurang diperhatikan; Perlu menciptakan wacana sebagai karakter; Tidak ada pihak lapangan yang menguasai tata ruang dan letak dalam manajemen pameran, terkhusus pada kasus Makassar Biennale; Kurangnya komunikasi antar pelaku, pemerhati, dan penafsir seni.

Kerja Kolektif untuk membangun Seni Rupa Makassar

Dengan demikian apa yang diperlukan dan dipikirkan adalah distribusi, literasi dan pondasi dalam dunia seni rupa di Makassar, untuk membangun sebuah wacana. Dimana, tentunya memerlukan kerja kolektif, dalam hal ini kolaborasi. Pun sosok figur terasa diperlukan sebagai pihak yang mampu meleburkan suasana untuk membangun kepekaan produktifitas, contohnya saja aktif mengikuti residensi. Kembangan-kembangan demikian diharapkan mampu menghubungkan titik-titik yang selama ini tak terhubung. Maka selanjutnya menjadi fokus bersama dengan perspektif masing-masing adalah lanjutan gelaran ketiga Makassar Biennale, seperti apa layaran maritim yang ditawarkannya.

 

 

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bincang Rupa

Trending

To Top