Connect with us
BAYANG-BAYANG MAF’99 , Adi Gunawan - Pieces of Youth; Acrylic on Canvas, 100x100cm,
Adi Gunawan - Pieces of Youth; Acrylic on Canvas, 100x100cm

Berdiskursus

BAYANG-BAYANG MAF’99

Mula persentuhan pameran sejak 1940-an, lanjutan pengenalan media 1950-an, kembangan peramuan komunitas 1960-an, dan bentukan perumusan institusi 1970-an, menjadi lini masa Seni Rupa Modern Indonesia di Makassar, kemudian capai titik didihnya di Makassar Art Forum (MAF 1999) dalam model pameran besar seni rupa. Masa kesenirupaan yang garis besarnya bermula dari rentetan pameran sedemikian rupa berbentuk, lukisan, patung, hingga instalasi kala itu. Pameran MAF itu pula menjadikan Rupa Makassar terlihat gemanya; jika disandingkan dengan Biennale Seni Rupa Jakarta XI (BSRJ 1998) yang didominasi lukisan dan vakum setelahnya sampai 2006, dan Biennale Seni Rupa Yogyakarta (BSRY 1999) yang tengah memformulasikan seni rupa kontemporernya , sebagai dua format Biennale pertama di Indonesia. Dimana pula ada seniman-seniman yang terlibat di BSRY’99 juga mengikuti MAF’99 diantaranya, Heri Dono, Mella Jaarsma, dan Nindityo Adipurnomo (Indonesian Visual Art Archive ).

MAF’99 sebagai perspektif kilasan Pameran Seni Rupa Makassar telah menghadirkan seniman-seniman masanya, perkembangan seni rupa modern dan pertumbuhan seni rupa kontemporer Indonesia, yang meskipun memang terpusat di Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. Dengannya Halim HD mengantar kuratorial MAF’99, mencoba menabur jaring, sebuah upaya untuk menggelindingkan proses desentralisasi dalam kehidupan kebudayaan, khususnya senirupa di Indonesia, untuk melihat sejauh mana lontaran amatan seni di seluruh wilayah Indonesia dengan karakter kebudayaannya masing-masing. Ditegaskan oleh Sofyan Salam bahwa pameran seni rupa dalam rangka Makassar Arts Forum ’99 ini dilandasi oleh keinginan untuk menampilkan sifat keberagaman wajah seni rupa kita. Namun lompatan MAF’99 serasa sekedar terdengar hingar-bingarnya kini, muncul hanya ketika ditanyakan, pun sisa segelintir yang mampu menjawab gelaran konsepnya, tentang gagasan apa yang telah dilontarkan dan bagaimana menangkap momentum MAF’99. Tersisa menjadi bayang-bayang. Cerita yang selalu membayangi saat membincangkan peran Makassar dalam Seni Rupa Indonesia.

Mencoba lebih dalami bayang-bayang MAF’99 dengan mengkritisi gelaran pertama Makassar Biennale (MB 2015) di Trajectory-nya, bertautan enam belas tahun disertai pameran-pameran studi akhir lainnya, mengabstraksi pautan yang begitu jauh, baik dari konsep maupun model jaringan secara kontekstualnya. Bayangan “kebesaran” MAF’99 rasanya sulit ter-“slogan-ria”-kan oleh MB’15. Selalu menjelma bayang jika dijadikan perbandingan untuk melihat perkembangan kesenirupaan di Makassar. Apalagi jika membandingkan para seniman yang terlibat didalamnya, sebutlah lalu A. Awan Darmawan, Abd. Kadir Tjulle, Acep Zamzam Noor, Achmad Fauzi, Ahmad Anshari, A. Hasan Mahmud, AH. Rimba, Alan Tola, Andi Syafruddin, Aminuddin TH. Siregar, A.M. Natsir Anri P., A. Musaidah, Arief Daeng Nawang, Arman Umar, Asman, Bachtiar Hafid, Benny Subiantoro, Budi Haryawan, Cia Syamsiar, Dahri Arif, Den Dede, Endang Mohi, Endeng Mursalin, Faisal Palutturi, Fathuddin Mujahid, Firman Djamil, H.A. Kahar Wahid, Haeril, Hendro Suseno, Idhar, Irwan Bagdja Dermawan, Iwan Koeswanna, Jalil Saleh, Jerry Padang, Makian Y. Wahid, Mattaropura Husain AE., Meisar Ashari, Mike Turusy, Moeanam, Mohammad Azis Alkatiri, Muhammad Amir, Muhammad Nur Amri, Nurdin Abu, Nurdin Nanda, Nurul Chamisany, Pammadeng Rukka, Randhy Bugis, Regina Bimadona, Rosanna, Rusli, Samuel Indratma, Simon Irwin Daton, Sonny Lengkong, Sumardi PR., Syahbuddin Mamala, Syamsu Ishan, Syis Paindow, Tanwir An Pettalolo, Thamrin Mappalahere, Untung Arif, dan Zainal Beta melukiskannya; Anzul Qiu Qiu, Tini Martini, dan Udhin Kecil mematungkannya; serta Agung Kurniawan, Agus Suwage, Agoes Jolly-Iswanto G. Hartono-Fahmi Alatas-Nanang, Anusapati, Aminuddin TH. Siregar, Azis Said, Bunga Jeruk, Eddi Hara, Eddi Prabandono, Eddo Pilu, Firman Djamil, Hanura Hosea, Hedi Haryanto, Heri Dono, Koni Herawati, Mangatas Pasaribu, Mella Jarsma, Nindityo Adipurnomo, Putut, H. Pramana, Rubiati Puspitasari, Teguh Ostenrik, Tisna Sanjaya, dan Yustoni Valuntero menginstalasikannya. Trajectory sebagai rupa MB’15 seakan merespon terbongkarnya identifikasi baru mengenai Gua Leang-leang sebagai lukisan pre-historis melebihi gambaran di Gua Lascaux dan Gua Altamira, sekitar 39.000 tahun lalu sebelum manusia mulai mengenal seni lukis, meski tak dibincangkan lebih teliti lagi temuan dan efeknya bagi Seni Lukis Indonesia. MB’15 memang helatan biennale pertama di tengah bermunculan berbagai formatan serupa di Indonesia, dipertanyakan sembari dimaklumi keberadaannya. MB’15 pun tetap telah memberikan jejak lanjutan dari perbandingan bayangan MAF’99, bayangan yang selayaknya dikaji medium dan metodenya, terlebih manajemennya.

Makassar Biennale 2017 melanjutkan jejak dalam bungkusan “Maritim.” Dengan tema maritim itu pula, MB’17 didampingkan dengan “Jiwa” Jakarta Biennale dan “Equator#4” Biennale Jogja, dirangkum oleh Bekraf sebagai “Upaya Kolektif Tempatkan Indonesia dalam Peta Seni Kontemporer Dunia” pada Konferensi Pers Bersama di Oktober kemarin. Seperti sebelumnya jika ingin dikritisi, MAF’99 masih membayangi MB’17, baik dari segi manajemennya terlebih bentuk pamerannya. Namun sebelum itu, jika pameran masih dianggap sebagai media pertanggungjawaban serta model presentasi gagasan oleh seniman siapapun itu, maka penting juga rasanya melihat deretan pameran dijarak MB’15 dan MB’17 untuk melihat lintasan perkembangan kesenirupaan di Makassar yang katanya Biennale adalah bentuk pencapaian kesenian suatu wilayah atau setidaknya mengarah kesitu. Dalam bentangannya memang, hampir semua pameran di Makassar merupakan pameran studi akhir dari dua institusi pendidikan seni, yang jika dianalisis tentu terbatas dan tergantung pada penilaian pengampu. Kasus pameran lainnya, sebenanrnya ada dua-tiga peristiwa berbeda bahkan model baru di Makassar yang digelar bukan untuk pemenuhan pameran studi akhir, serta pertunjukan-pertunjukan, festival-festival, event-event kreatif, dan model ruang seni baru lainnya, yang seharusnya mampu membebaskan diri dari bayang-bayang MAF’99. Sekali lagi jika ingin dievaluasi kajiannya. Kajian termaksud adalah sebuah pameran yang bukan semata memajang sebanyak-banyaknya karya dengan sebesar-besarnya pembukaan namun pesan gagasannya sendiri masih entah kemana. Meskipun mulai dari penelitian isu, pengkajian data, perumusan konsep, seleksi karya, dan juga pemasaran karya sebuah pameran tetap kadang tabu di Makassar; sementara kesemuanya telah dipraktekkan MAF’99.

Mengenai Maritim MB’17, masih banyak pendaman tanyaan, kenapanya bisa terjaring, namun maritim seperti apa dan bagaimana bentukan konsep tebaran di gelarannya adalah yang menimbulkan pusaran tanda. Sehingga untuk menangkap maritim itu mesti membaca sejarah kemaritiman kita sendiri, atau mungkin itulah tema termaksud. Kembali ke MAF’99 di bayangan beberapa seniman yang terlibat dan mengetahuinya, memang diakui sebagai sebuah standar yang amat besar jika ingin melanjutkan bandingan pamerannya dari segala perspektif. Di satu sisi adalah tantangan sekaligus tamparan tandingan. Pernah ada helatan yang mengambil nama Bienal pameran bersama setelah gelaran-gelaran di stasiunnya masing-masing, sempat bergema di Makassar, disukai, dikomentari, juga dicemooh, terbayang menjadi bayangan baru lain. Stasiun yang sebelum diselesaikan pernah juga memberikan bentukan pameran baru di Makassar, Pameran Rumahan, pertemuan sentuhan seniman dan bacaan budayawan Makassar. Kumpulan-kumpulan titik-titik sedemikian yang jika dipertemukan dengan MAF sebagai perbandingan lanjutan, tentu memiliki peluang nyata memunculkan sebuah bentukan baru sezamannya, bukan cuma ‘now,’ melainkan mungkin saja wajah kesenirupaan khas Makassar di Corak Seni Indonesia, kenapa tidak?! Toh ada dua-tiga gabungan kepala muda telah memulai gayanya sendiri. “Sebenarnya dengan kemajuan teknologi dan banyaknya sumber, terlepas dari cipta sendiri atau ciplakan, sekarang karya mahasiswa lebih bagus dibanding dulu, cuma kualifikasi pengajar seakan menurun dari penguasasan materi…” semangat seorang seniman ‘pendidik seni’ senior di masa tuanya yang masih bersemangat untuk mengembangkan kesenirupaan itu, Abd. Kahar Wahid yang mengawali persentuhan-persentuhan itu. Kemudian, jika melihat kembali masa permulaan penciptaan dan pengajaran seni rupa khususnya di Makassar, “…memang kalau di dalam seni, tidak bisa dikatakan bahwa dosen lebih bagus dibanding mahasiswa,…banyak yang kurang sadar untuk mengembangkan diri, yang saya ajarkan 40 tahun lalu…harus dirubah dan dikembangkan dengan teknik dan teori sekarang,” imbuhnya dengan jelas tanpa bayang-bayang kebanggaan akan masa lalu.

Referensi:
[1] Katalog Pameran Seni Rupa MAF ’99, 1999; [2] Wawancara dengan Abd. kahar Wahid sebagai Informan mengenai Sejarah Seni Rupa di Makassar dalam Pameran Nostalgia oleh Tim kuratorial Kelas Manajemen Pameran Angkatan 2015 FSD UNM, 2017; [3] Salam, S. (2000). Seni rupa mimesis dan modern kontemporer di sulawesi selatan. Sulawesi Selatan: Dewan Kesenian Makassar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berdiskursus

Trending

To Top